Friday, October 21, 2011

[Review Buku] Para Pemuja Matahari



 

Naia Hannah, seorang mahasiswi Antropologi tingkat 2, asal Yogyakarta, anak tunggal kesayangan orang tuanya.  .  Walaupun berkecukupan dalam hal materi dan kasih sayang namun di dalam hati Naia berontak.  Ia butuh kebebasan untuk lebih mengekspresikan diri.  Faktor anak tunggal menjadikan orang tua terutama Mamanya bersikap kelewat protektif pada Naia.  Sering kali keinginan Naia untuk naik gunung bersama teman-temannya terpaksa dibatalkan karena Mamanya tak memberi izin.  Sepertinya butuh perdebatan panjang sebelum satu keinginan Naia bisa terpenuhi.  Termasuk untuk menggapai satu mimpi besarnya.  Naia punya hasrat terpendam, berkeliling Pulau Jawa seorang diri.  Selama ini ia hanya bisa iri mendengarkan cerita teman-temannya.

Rencana disusun, diam-diam.  Selepas liburan ‘resmi’ di rumah Pamannya di Jakarta Naia ‘minggat’.  Ia berkelana mengunjungi tempat-tempat impian dalam hasratnya.  Bermalam di Baduy, mendaki Gunung Salak,  menjelajah Segara Anakan dan Karimunjawa, Semarang, dan Kawah Ijen.  Dalam perjalanannya Naia belajar banyak hal, bahwa hidup itu penuh warna, tidak sesederhana yang dikira.  Ia melihat gegar budaya yang dialami masyarakat Baduy menghadapi modernisasi, ia belajar memasrahkan diri saat tersesat di Gunung Salak.  Naia baru menyadari bahwa hidupnya sangat beruntug saat mengikuti perjuangan Bowo, anak nelayan putus sekolah.  Naia juga baru menyadari betapa besar sebenarnya kasih saying orang tuanya.  Perjalanan yang tadinya hanya untuk dipamerkan di hadapan teman-temannya akhirnya malah merubah diri Naia…..

 

Novel Para Pemuja Matahari (PPM) ini mengajak para pembacanya untuk lebih mencintai tanah air kita ini dengan segala keterbatasannya.  Dari segi cerita novel ini ringan, mudah diikuti dan dipahami.  Saya suka novel ini. Pertama karena jauh dari kesan kelebay-lebay’an.  Tokoh Naia digambarkan sebagai perempuan yang berani dan mandiri.  Tidak ada carut marut urusan cinta-cintaan di sini.  Hey, gak banyak kan novel Indonesia bergenre non asmara? Ditambah lagi dalam ceritanya sang penulis Lutfi Retno Wahyudyanti juga menyelipkan  informasi dan fakta-fakta menarik tentang daerah-daerah itu.  Kedua saya bangga Lutfi mengangkat keindahan alam Nusantara, bukan melulu Paris, Tokyo, atau New York.   Bagian yang saya sukai adalah petualangan Naia di Gunung Salak dan Segara Anakan.  Saya seolah bisa merasakan ketakutan Naia saat tersesat di pendakian.  Lutfi menuliskan kedua bagian ini cukup lengkap dibanding tempat-tempat lain.

Awal-awal membaca PPM saya sempat terjebak, ini karena saking langkanya novel traveling asli Indonesia.  Secara garis besar buku-buku traveling yang beredar di pasaran selama ini terbagi menjadi 2: buku panduan dan memoir (cerita perjalanan).  Lutfi secara cerdas masuk ke segmen yang selama ini jarang  dilirik penulis Indonesia lainnya.  Ekspetasi awal saya,  di novel ini 1 halaman khusus tiap bab yang memuat : tips & trik backpacker seorang diri,  rute lengkap transportasi, tabel pengeluaran dan lain-lain hal teknis lainnya.  Tapi setelah membaca semuanya saya baru sadar….aduuuh ini kan novel, bukan buku panduan travelling!!

Poin berikutnya yang patut diacungi jempol dari buku ini adalah minimnya kesalahan tata bahasa/EYD.  Apresiasi dari saya mengingat PPM ini diterbitkan secara mandiri bukan oleh penerbit-penerbit besar yang punya staf khusus editorial.  Selama ini sering saya temui buku-buku indie yang bagus dalam tema namun carut-marut soal bahasa.

Ada beberapa catatan yang mungkin bisa menjadi masukan untuk penulis.  Dari sisi penokohan dekripsi tentang Naia terpencar-pencar.  Mungkin dari awal gambaran tentang Naia (tinggi, raut muka, rambutnya bagaimana, dll )bisa diselipkan dari sudut pandang orang-orang yang bertemu dengannya (Ayah saat melepas kepergian Naia di stasiun kereta atau dari Lanang, teman sebangku Naia di kereta).  Yang kedua novel ini pasti tambah keren kalau ada foto-foto lokasi-lokasi yang didatangi Naia.  Seperti yang ada di sampul depan.  Foto-foto itu bisa dimuat di bagian terakhir novel, disertai caption secukupnya.  Ketiga di tiap bab/daerah mungkin bisa ditambahkan fakta/fakta menarik tentang daerah itu, bisa berupa data geografi atau cerita sejarah seperti di bab Karimunjawa ada box kecil yang menerangkan bahwa dulunya Karimunjawa ini merupakan tempat keturunan Sunan Muria.

Yang terakhir tentang logika dan konsistensi.  Ada beberapa bagian novel yang cukup ganjil dan mengganjal.  Di cerita Baduy, Sadim-teman baru Naia-digambarkan sebagai orang yang berbahasa Indonesia dengan aneh.  Alangkah baiknya kalau keanehan ini ditampilkan di percakapan yang dilakukan Sadim.  Saat menuju Baduy Naia dan Sadim harus melalui sungai yang airnya sedang meluap. Bagaimana caranya? Apakah maksutnya mereka melipir saja atau haru menyeberang, luapan sungainya sampai seberapa?.  Saat baru tiba di rumah keluarga Sadim, Naia digambarkan langsung membongkar tas, menyeduh Pop Mie dan makan camilan. Baru kemudian berkenalan dengan keluarga Sadim. Aduuuuh, Naia kok jadi gak sopan gitu yah?hehehe….

Akhirnya selamat buat Naia dan Lutfi Retno Wahyudyanti.   Terimakasih sudah mengajak pembaca untuk lebih memaknai dan mensyukuri hidup ini.  Seperti kata Naia “Sekali, Kau perlu pergi ke tempat baru, dan bertemu dengan orang asing untuk tahu dirimu beruntung”.  Semoga kalau ada kesempatan traveling seperti Naia kita gak hanya sekedar bernarsis ria demi foto di laman Facebook, tapi juga berhasil “memotret” kehidupan mayarakatnya di sana, supaya jiwa kita juga jadi lebih kaya. (Laksita Wijayanti)

 

 

 

 

 

 

 


7 comments:

The True Ideas said...

judulnya ngeri, pemuja matahari, jadi ingat kaum Saba'

weinsyria ates said...

good review! gue suka... suka reviewnya, krn blom baca bukunya hihihi

anotherorion priyo harjiyono said...

apik quotenya

laksita wijayanti said...

tapi yang ini bukan kok pak ;D

laksita wijayanti said...

nyahahahaha.......nanti bentar lagi pas mudik mbak

laksita wijayanti said...

ehhhh ini quote di sampul depan novelnya lhooo yaaa....bagus yah? saya juga suka bangedd

Maztrie™ Utroq said...

aww...
permisi, mampir benar mbak..
etrnyata temen MP dah ada yang review bukunya Retno juga yaa...

hihi, sip sip mBakk...