Friday, March 12, 2010

(Diary Stroke) Ke Jogja Ku Kan Kembali...

Sejak dahulu aku selalu bangga mengatakan "Aku ini anak perantauan lho..."

Aku lahir di Purworejo, bapak ibuku asli daerah itu, sebuah kota pensiunan yang adem ayem tentram (kata lain untuk sunyi senyap, Red).
Sampai umur 5 tahun aku tinggal bersama ibu dan simbah, di Desa Wingkoharjo, Ngombol.
bapak waktu itu baru lulus kuliah di teknik sipil UGM dan baru saja masuk sebagai PNS di Proyek Irigasi Kali Progo, Jogja.
Setiap akhir minggu beliau pulang ke purworejo menjenguk kami
Bapakku berarti juga perantau lho, lulus SMA kuliah di Jogja
Walaupun cuma berjarak 1 jam tetap saja tinggal di luar kota kan?
Umur 5 tahun aku dan ibu ikut pindah ke Jogja, ngontrak rumah di daerah Mundusaren dan Selokan.
Sekolahku TK Nologaten I dan SD Ambarukmo (sekarang sudah tergusur Ambarukmo Plaza..)

Dulu aku berangkat sekolah jalan kaki lho, lewat pematang sawah dan bisa masuk ke tamannya Hotel Ambarukmo (Hotel termegah era 1980'an)

Di Jogja adik laki-lakiku lahir
akhirnya aku jadi kakak juga, setelah 7 tahun jadi anak tunggal

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Naik kelas 3 keluargaku pindah ke Manado, Sulawesi Utara
Bapak mengabdi di Proyek Irigasi Paguyaman.
Cuma 1 kata untuk melukiskan Manado................Menakjubkan!!!
Matahari terbenamnya
Pantainya
Makanannya
Orang-orangnya
Budayanya

Menakjubkan!
Gara-gara tinggal di kota ini aku jadi doyan ikan
Gara-gara 4 tahun tinggal di kota ini aku kehilangan logat jawaku

Keluarga kami sempat tinggal di 2 tempat :
BTN Paniki Bawah yang cuma beberapa kilo dari Bandara Sam Ratulangi, dan
di Jl. Bethesda, tepat di samping Gereja Bethesda, cuma berjarak beberapa kilo dari Boulevard Pantai Manado.
Aku menamatkan sekolahku di SD Negeri 2 Tikala Ares, dekat lapangan Tikala Ares, alun-alunnya Manado.

Di Manado aku belajar jadi anak mandiri, pulang pergi naik angkutan umum sendiri
Angkutan umum di manado?...............TOP BGT!!!
Kalau ada survey angkot award, aku pasti mendukung angkot angkot Manado deh
Bayangkan, di sana gak ada yang namanya desak-desakan
Satu tempat duduk ya buat satu orang, nyaman nian

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku lulus SD bertepatan dengan kepindahan bapak ke Sumatera-Selatan
Lantaran di sana kondisi belum memungkinkan, untuk sementara aku, ibu, dan adekku tinggal di Purworejo.  Aku *disuruh* masuk SMP 3 Purworejo, SMP nya bapak dulu
Bapak mendahului kami ke belantara Sumatera, tinggal di perumahan yang baru didirikan di atas bukaan hutan
Listrik? masih giliran
Gajah lewat? masih kadang-kadang.

Rencananya aku bakal ditinggal di Purworejo, sekolah di sana hingga tamat SMA (Masih juga dipesen kalau bisa masuk SMA 1 Purworejo, almamater bapakku..............sekolah turunan lagee??)
Ibu cuma menemani sampai aku melewati semester 1

Apa daya rencana tinggal rencana
Aku tak kerasan di Jawa
yaa aku dulu kan anak kolokan, gak bisa pisah dari ibu, masak disuruh tinggal di asrama

jadi....ikutlah lagi aku merantau...............kali ini ke Desa Kotabaru, Kecamatan Martapura, Kabupaten Ogan KOmering Ulu, SUmatera Selatan.

tak kusangka, aku bakal menghabiskan waktu yang lama di Pulau Sumatera


--------------------------------------------------------------------

Rumahku cuma berjarak 4 km dari tugu perbatasan Lampung-Sumsel
Kompleks Irigasi Komering, Jl Raya Lintas Sumatera KM 4
Dikenal sebagai jalur lintas tengah Sumatera.
Bapakku jadi kuli mbangun saluran irigasi dan bendung gerak perjaya.
Daerah Martapura dan tetangganya Belitang memang diplotkan sebagai lumbung beras Sumbagsel.
Di sini aku menamatkan sekolah di SMPN 1 Martapura dan SMUN 1 Martapura


Aku punya hari-hari yang indah di sana
Rumah kami nyaman, penuh tanaman buah dan binatang peliharaan milik bapak
Ada jambu air, jambu bangkok, mangga.  Ada burung murai, jalak, burung hantu, burung beo, ikan mas, ikan tetra, ayam, kucing.

Ibuku lain lagi, hobinya menanam tanaman dapur : serai, kunyit, pandan wangi, kol blanda.
Di rumah ini aku mengenal konsep binatang peliharaan
Aku punya binatang milikku sendiri
Aku punya molly, kucing kampung bermata biru berbulu putih bersih
Molly yang kalau bapakku pulang langsung menyambut lompat lompat kegirangan di depan pintu, sementara kalau aku pulang dicuekin.....padahal aku yang ngasih makan

Aku punya si jambul, burung jalak putih yang senangnya mencicit....."Cewekkk, cewekkkk"...
Bahkan bila tamunya laki-laki pun tetap di panggil ceweeeeek sama si jambul

Hingga tiba saatnya aku meneruskan kuliah
Saat itu aku sudah dengan mantab melangkahkan kaki, melepaskan diri dari orang tuaku
Aku siap jadi perantauan sendiri
Aku memilih Bogor daripada Jogja
Jogja pernah kutinggali, Bogor kota yang benar-benar baru
Aku ingin merasakan tinggal di tatar Sunda
(sayangnya 5 tahun tinggal di sana aku gagal belajar basa sunda............)

Pada 1998, aku keluar dari rumah ibuku, resmi jadi perantauan


----------------------------------------------------------------------
Lima tahun kemudian setelah lulus dari IPB, aku tak pernah berpikir untuk pulang dan menetap lagi di rumah.
Bapak sudah pindah lagi, kali ini ke ibukota Sumatera Selatan: Palembang.
Mei 2004 aku ketrima kerja di Majalah Trubus, pindah ke Mekarsari, Cimanggis, Depok
Aku menemukan hasrat terpendamku.............menulis.


Aku meneruskan tradisi merantau
Mudik selalu membawa sensasi seru
Antri tiket bis di pool Lorena selalu mengesankan
Nongkrong shubuh-shubuh di bandara selalu membuat mataku melek berbinar
Hingga saat kepergian Bapak di Palembang dan kepulangan ibu ke rumah asli kami di Jogja
Aku tetap meneruskan tradisi merantau dan mudik
Hingga sekarang......................

-----------------------------------------------------------------------------------
Dua belas tahun setelah langkah pertamaku keluar dari rumah....
Aku memutuskan untuk kembali...pulang ke rumah...pulang ke rumah ibuku
Dua belas tahun setelah menyandang gelar anak perantauan....
Aku memilih untuk kembali ke jogja, mendampingi ibuku untuk seterusnya


Pekerjaan bisa dimana saja, tapi orang tua cuma satu-satunya
Rezeki Allah bertebaran di setiap jengkal muka bumi, tapi aku cuma punya 1x kesempatan untuk berbakti dan merawat ibuku


"Bagaimana memuliakan ibumu?
 Sama seperti apa yang engkau inginkan dari anakmu,
 Lalu lipatgandakan untuk ibumu"



1 April 2010..................Jogja, Ku Kan Kembali







19 comments:

Dewi Rieka said...

amiin..tyata dikaw si bolang juga ya, masuk kuliah 98?seangkatan atuhh..tp kebalik aku dr bogor ke yk,dikaw sebaliknya ya..yk makin ramee..tar kl aku main ksana mg2 bs kopdaran yaa..

lani marliani said...

amin. salut salut..sukses mbak.
kalo kita ridho dan ikhlas merawat orangtua, insyaallah rezeki gak putus-putus bakal dateng..

pingkan rizkiarto said...

Pilihan yang sangat mengagumkan...
Titip sungkem buat Ibu ya...

shanti saptaning said...

lho ...jadi pulang ke jogjanya bakalan lama mb Sita ? pindah kerjaan ?
aku salut deh, pulang demi menemani ibu, bener2 anak berbakti :)
aku jg merantau sejak 94 mbak, ke malang, 97 ke jkt, sampe ke jogja ini dari 2007
ini juga salah satu pertimbangannya demi mendekati ibu dan ibu mertua, jaraknya sama2 4jam perjalanan, ke ibu arah timur, ke ibu mertua arah barat :)

Bambang Priantono said...

Wah, bener-bener hebat!!! salam buat ibu, dan siapa tahu bisa kopdar neh

Vita Rumanti said...

Cool!
Yg di martapura yg tetanggaan sama siska ya mb?
Met mengakhiri masa perantauan mb. Akhirnya ke kota b'hati nyaman kau kembali. Duh, trus kpn kita b'temu lagi?

hananto sudibyo said...

you're amazing sita....
sampaikan salam takzim teriring doa semoga segera pulih buat ibunda yg mampu mendidik seorang anak seperti sita....

Imazahra Chairi said...

Sita si bolang! Hehehe...
Selalu mengesankan ya bercerita ttg keakraban kita bersama alam. Ini yg susah kita temui di kota Jakarta nan hiruk pikuk dan artifisial! Love your journal so much, Darling :-)

Penutupnya membuatku sungguh sesak terharu.
Iya, kapan lagi? :-)

yelli ordinary people said...

subhanallah,aku lom bisa seperti dirimu huhu

laksita wijayanti said...

mauuu..mauuu mbak....nti kubawa sekalian anak kos dodolkuww....asikkkkk

laksita wijayanti said...

amin, amin
iya lan, aku percaya rezeki berkorelasi positif sama birrul walidain.

laksita wijayanti said...

iya mbak, Insya Allah kusampaikan titipannya ;))

laksita wijayanti said...

waaaah itu pilihan yang sangat bijaksana tuh mbak
hiya, pindah jadi warga jogja kie mbak
mengkolah aku sowan ke rumahe mbak shanti, ketua MP Jogja, hihihihih

laksita wijayanti said...

Hayooooo atuh cak!!!
iya cak, kalo mo dapet surga kudu jadi orang "hebat" ;))

laksita wijayanti said...

HOTTT vit, depok HOTTT banget saiki *sambil kipas kipas*
iya, di martapura bareng siska
aku masih di jakarta sampe 4 Aprilan
tapi agak susah mo kemana mana yo vit, kalo sabtu mudik ke jogja soale, nganter ibu kontrol.

laksita wijayanti said...

i'm mas, hehehehe

laksita wijayanti said...

setujuh sekali mbak Ima!!!gak ada habis habisnya diceritain dehh...
dulu tugasku di rumah kan mbersihin kolam ikan sama mbantuin ngurus burung, hohohoh


iya mbak, apa yang kulakukan belum sebanding, gak ada apa apanya mbak sama apa yang udah beliau berikan buat kita.

laksita wijayanti said...

tetep semangatt Jeng!!
ada banyak pilihan kemaren jeng, tapi aku memilih itu.

ati kusumawati said...

huh Lele...
malam2 baca tulisan ini..jadi ada yg netes deeeeehhh...

Subhanallah...
semoga Allah membelas semua ini ya Le..

kalau aq kebalikannya...
mama yg aq tarik lagi ke India...
daripada aq stress mikir mama..dan mama juga kasian sendiri disana...

mudah2an ada kesempatan ke Yogya lagi ya Le..
pasti aq sempatkan mampir...