Tuesday, December 23, 2008

Doa dan Bungkusan yang ruwet

Malam Jum'at di Masjid Rungkut Jaya. Suatu kali.
Beberapa ayat telah dikupas dari berbagai tafsir: Jalalain, Al-Mishbah, Al-Azhar, Adz-Dzikra, Fii Dzilalil Qur'an, dan beberapa tafsir berbahasa Jawa dan Inggris.

"Saya pernah berdoa yang tak biasa, Pak," kata Bu Kus membuka sesi pertanyaan.

"Apa itu, Bu Kus?" tanya Pak Suherman Rosyidi, Sang Ustadz.

"Suatu kali saya berdoa: Ya Allah, jadikan saya isteri yang selalu terlihat cantik di mata suami."

"Doa yang bagus, dong," sergah Pak Ustadz, "lalu apa yang terjadi?"

"Ya, memang bagus, Pak Herman. Tetapi, esok harinya wajah saya mulai ditumbuhi jerawat yang saya tidak tahu darimana datangnya. Banyak. Beberapa hari kemudian malah memenuhi seluruh wajah. Saya jadi kebingungan. Akhirnya mau tidak mau saya harus menjalani perawatan kecantikan wajah ke sebuah salon kecantikan, suatu hal yang tidak pernah saya lakukan. Saya harus datang ke tempat itu untuk membersihkan jerawat di muka saya. Berkali-kali. Berhari-hari. Hasilnya tentu saja mengejutkan saya. Wajah saya menjadi lebih bersih dari semula. Lebih cantik."

"Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?"

"Ya, sih Pak. Tetapi itu belum seberapa, Pak."

"Maksudnya gimana?"

"Saya juga pernah berdoa yang tak biasa, Pak. Doa yang lain."

"Apa itu?"

"Saya berdoa agar Allah menjadikan saya isteri yang setia pada suami."

"Doa yang bagus juga. Lalu apa yang terjadi, Bu?"

"Esok harinya, suami saya jatuh sakit. Tak bisa bangun. Ia harus dirawat di rumah sakit. Berhari-hari. Saya mau tak mau harus menungguinya selama terbaring itu. Saya bahkan sampai merasa itu semua seperti ujian bagi saya. Ujian terhadap kesetiaan saya, apakah saya tetap setia pada suami apa tidak. Saya seketika teringat akan doa yang pernah saya panjatkan sebelumnya."

"Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?"

"Ya, sih, Pak."

"Lalu sekarang, pertanyaannya Ibu apa?"

"Bukan pertanyaan, Pak."

"Lalu apa?"

"Sekarang ini, saya justru merasa takut untuk berdoa. Gimana ini?"

***

"Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harap dengan mengantarkannya dalam bungkusan yang indah?"

Neno Warisman pernah bertanya demikian pada sebuah acara di televisi, mengutip pernyataan seorang pakar yang aku lupa namanya.

"Tidak!" lanjut Neno. "Tuhan tidak mengantarkan apa yang engkau minta dalam sebuah bungkusan yang menarik lagi indah. Bahkan Ia mengantarkannya dalam bungkusan yang jelek, ruwet, carut-marut, dan kelihatannya sukar untuk dibuka.

Pertanyaannya adalah: mengapa?"

"Itu tidak lain karena Ia ingin melihat bagaimana engkau membuka bungkusan itu dengan penuh kesabaran, telaten, bersusah-payah lapis demi lapis, sedikit demi sedikit, terus, terus, dan terus. Tak pernah berhenti apalagi berpaling. Hingga pada akhirnya bungkus terakhir terbuka dan engkau mendapatkan sesuatu yang engkau harapkan ada di dalamnya."

Bukankah Allah pasti akan mengabulkan apa yang hamba-Nya pinta? Kuncinya kalau begitu adalah: jangan pernah berhenti memuja. Jangan pernah berhenti berharap.

Allah tidak tidur.
Allah mahamengetahui.
Allah mahamendengar.
Dia maharahman dan rahim.

Sungguh tak ada yang sepatutnya kita lakukan kecuali selalu berprasangka baik pada setiap pemberian-Nya. Entah nikmat, entah musibah. Karena musibah pun mungkin hanyalah bungkus belaka; yang selayaknya kita yakini bahwa itu semua hanya karena Ia ingin melihat kita membukanya dengan sepenuh cinta.

Maaf, tidak berhasil menemukan sumber aslinya
saya copas dari buletin pak Bustomi di Facebook.

21 comments:

ema ramayangfi said...

TFS mbak,.. udah lama aku ndak jalan2 di MP mbak,.. hehehe

kabarnya sehat aja kan???

Vita Rumanti said...

Waduuuuuuuuuuuuuh uapik tenen iki artikele jeng. Suwun yo!

*ayo kita belajar membuka kado dari Allah*

laksita wijayanti said...

sama sama mbk, sehat alhamdullilah
semoga mbk juga sehat yah;))

yelli ordinary people said...

pernah baca tapi mengingatkan lagi makasih sist :)

dina sudjana said...

cuman mau nyolek aja apa kabar say?

laksita wijayanti said...

sami sami jeng, ho oh apik.

Arie - Bunda Icha Anakku Sayang said...

makasih sharenya mbak..:-)

laksita wijayanti said...

sama sama jeng
met liburan yo

laksita wijayanti said...

Mbak Dina:
alhamdullilah mbk dinaa, aku baek baek aja
kangen ama cerita ceritanya mbk Dina
welkam bek ya mbk;))

laksita wijayanti said...

Bunda Icha: makasih juga mbk;))

The True Ideas said...

Suherman Rosyidi yang dosen itu ya?

laksita wijayanti said...

Pak syamsul kenal?

lina lathifa said...

Hiks hiks hiks jeeeng. makasiiih. insightful. jadi inget betapa diri ini kurang sabaaaar berdoa. :((

laksita wijayanti said...

ho oh jeng lina, kita manusia emang sering mau enak dan gampang
tapi Allah emang maha Tahu gimana cara ngasih pelajaran buat kita
tinggal kitanya yang kudu pandai pandai ngebaca hikmah dari setiap peristiwa

lina lathifa said...

huuuuwwww jeng sitaa... huuuuwwwww. [mewek] :D

david faisal said...

Allah menilai proses ibadah kita
bukan hasilnya

bahkan Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan yang kita mau

karena belum tentu yang kita mau baik buat kita tapi apa yangkita butuhkan InsyaAllah baik buat kita

Lutfie Septerina said...

Bagus!

sendiriajah kali said...

Slama ini aq tlalu jumawa..ah,kow..pandai sekali menyentuh hati org.

abdullah almukhlish said...

ya alloh gak usah pake bungkus,saya punya tas plastik...

Mulyadi Nafis said...

bagus sekali ceritanya.....

Si Perempuan said...

nice.. mau 'like' gk ada hihi;p