Monday, November 3, 2008

Komunitas Reading Bugs, Bikin Anak Suka Membaca (1)

sumber teks dan Foto : Nova

Komunitas Reading Bugs, Bikin Anak Suka Membaca (1)

Jika musik klasik terbukti dapat menstimulir perkembangan otak anak agar tumbuh cerdas, ternyata ada pula teori sederhana yang bisa membuat anak gemar membaca. Mau tahu caranya?

Ester Sondang

Sejak kedua anaknya masih sangat kecil, Rossie Setiawan (52) terbiasa membacakan buku cerita untuk mereka setiap hari. Tanpa ia sadari, ketika anaknya beranjak balita, si sulung 5 tahun dan si bungsu 4 tahun, sudah mampu membaca. "Padahal saya tidak pernah mengajari mereka membaca secara khusus. Justru yang sering saya lakukan adalah membacakan untuk mereka."

Hingga sekitar 20 tahun kemudian, oleh Aryo, temannya yang bekerja sebagai story teller, Rossie diperkenalkan pada sebuah buku yang berjudul Read Aloud Handbook karangan Jim Trelease. "Saya merasa buku itu saya banget, karena apa yang ditulis di situ persis seperti apa yang dulu saya lakukan terhadap anak saya. Sejak itu saya merasa harus membagikan buku itu kepada para ibu dan mulai berkomitmen mensosialisasikan read aloud, alias membaca dengan lantang."

Sayangnya, keinginan Rossie terbentur pada kenyataan, buku ini sulit sekali ditemukan. Bahkan, saat ada kesempatan ke Australia dan Filipina, Rossie tetap tak menemukan buku itu. "Padahal, buku ini sudah edisi ke-6, lo. Malah, edisi pertamanya diterbitkan sekitar 30 tahun lalu."

Untunglah saat Rossie pergi ke Kuala Lumpur, April 2008, ia berhasil menemukan buku tersebut. "Dan itu pun tinggal satu-satunya," ujar Head of Brand Activation di Glaxo Smith Kline ini.

Read Aloud merupakan buku petunjuk untuk membangun kegemaran membaca pada anak sepanjang hayat (lifetime reader). Selain itu, buku ini juga mengajari para orangtua bagaimana membentuk anak agar mau menjadikan buku sebagai sumber pengetahuan dan hiburan.

Buku ini hanya menyarankan para orangtua mau membacakan cerita pada anaknya sekitar 20 menit setiap harinya atau bisa juga minimal satu buku setiap harinya. Waktu yang sebentar ini, katanya, dapat membantu mencerdaskan anak di masa mendatang karena sedari kecil otaknya sudah dilatih melukiskan bentuk melalui kata yang didengarnya.

Sejak Dalam Perut
Untuk menyempurnakan komitmennya, Rossie kemudian minta izin penulis buku untuk menerjemahkan bukunya tersebut ke dalam bahasa Indonesia. "Saya mengirim surat ke Jim dan mengatakan sangat terinspirasi dengan bukunya. Saat dia bilang fine waktu saya cerita ingin menerjemahkan bukunya, wah, hati ini senangnya bukan kepalang," ujar Rossie bersemangat.

Kata read aloud yang berarti berbicara lantang, memang kurang familiar di Indonesia. Rossie pun akhirnya memilih memberi nama Reading Bugs untuk komunitas read aloud Indonesia yang digagasnya.

Harapan wanita yang awet muda ini, komunitas Reading Bugs dapat menularkan virus membaca dan mencetak generasi muda yang cemerlang. "Kalaupun kemudian anak dapat membaca dengan cepat, itu bonus," ujar istri dari Edhi Setiawan ini.

Menurut Rossie, ada dua indera yang dapat mengantarkan anak hingga dapat membaca, yakni melalui telinga dan mata. Melalui telinga bisa dilakukan saat anak sudah bisa mendengar suara kita kala masih di dalam kandungan di masa-masa trimester terakhir kehamilan.

Sementara melalui mata, disesuaikan dengan cara kerja otak, yaitu saat otak sudah bisa membuat coding. Maksudnya, saat kita membacakan cerita atau mendongeng, si anak membuat gambaran-gambaran atau coding di otaknya, tentang rupa benda-benda dari kata-kata yang kita ucapkan.

Perlu waktu agar seorang anak dapat membuat coding dalam otaknya (certain period) dan itu bisa dibantu dengan kosakata yang cukup. Oleh karena itu, orangtua harus rajin membaca untuk anak karena semakin sering membaca, semakin banyak kosakata yang dimilikinya.

"Ada beberapa orangtua yang menganggap sering berbicara dengan bayinya sudah cukup mengenalkan bayi pada kosakata baru. Padahal, tidak. Dengan membaca, orangtua justru bisa mengajari anak tentang intonasi, struktur kalimat, juga tata bahasa yang baik."

Rossie bahkan meminta para orangtua untuk mempelajari teknik membaca yang baik untuk anak. "Yaitu dengan menampilkan efek drama mengenai sebuah cerita," ujar Rossie sambil meyakinkan, cara ini sangat baik untuk membantu perkembangan otak anak menjadi lebih sehat dan kuat.

Merasa Spesial
Ada tiga tahapan posisi yang sebaiknya dipraktekkan para orangtua yang membacakan cerita untuk anaknya. Pertama, posisi memangku si anak. Ini berlaku untuk anak yang belum mampu duduk sendiri.

"Usahakan buku juga terlihat oleh si anak dan ketika orangtua mengucapkan kata yang ada di buku, ia wajib menunjuk kata-kata yang diucapkan. Ini supaya anak tahu bentuk kata yang diucapkan ayah atau ibunya." Kedua, anak masih dipangku orangtua, namun dibiarkan memegang buku yang sedang dibacakan tersebut. Tahap ketiga, saat anak sudah beranjak besar, "Biarkan dia duduk di samping orangtuanya."

Menurut Rossie, posisi duduk menempel seperti itu (skin to skin), dapat mendekatkan hubungan anak dan orangtua menjadi lebih intim. Selain itu, "Secara emosional, si anak juga akan merasa dirinya spesial karena orangtuanya mau membacakan buku untuknya."

Rossie yakin, read aloud sangat mungkin dilakukan siapa saja. "Modalnya, toh, hanya orangtua, anak, dan buku." Selain sederhana dan gratis, read aloud juga sangat efektif karena setiap orang bisa langsung merasakan hasilnya. "Pada akhirnya, orangtua akan sangat bersyukur karena memiliki peranan besar dalam kesuksesan si anak."

Sejak awal Mei 2008, Rossie bersama teman-teman relawannya sudah beberapa kali melakukan workshop dan sosialisasi ke berbagai tempat di mal, sekolah, dokter anak, dan berbagai instansi. "Saya punya harapan read aloud menjadi gerakan nasional dan ada dalam setiap kurikulum sekolah," tandasnya.

5 comments:

Ade Puspitasari said...

wuah, mantep nih! ijin copas ya

dina sudjana said...

kunci utama nya menurut saya, adalah contoh dari orang tua..
ada waktu untuk membaca.

laksita wijayanti said...

monggoh atuhh neng puput

laksita wijayanti said...

ayooo mbk Dina ditunggu bagi bagi ceritanyaa...

Vita Rumanti said...

ayo...galakkan program membaca sejak dini!