Monday, June 9, 2008

Skandal Foto Tempo

Oleh Sudaryono Achmad
Pengamat media. Aktivis Communicare Institute (Coin) Jakarta.

Pasca Tragedi Monas, Tempo memuat Foto Munarman sedang mencekik seseorang
dengan keterangan "Munarman sedang mencekik seorang peserta aksi AKK-BB". Bagi
Tempo, pemuatan foto tersebut barangkali sebuah prestasi tersendiri, terutama bagi wartawan foto yang berhasil memotret dengan momentum yang pas. Dengan pemuatan foto tersebut seolah-olah Tempo ingin memberikan "Bukti Nyata" bagaimana kekerasan dilakukan oleh Komando Laskar Islam, dalam hal ini Munarman sebagai Panglimanya.

Sayang, ternyata foto tersebut FITNAH belaka. Foto yang terlanjur dimuat di beberapa media seperti Indopos, Detik com dan beberapa media lainnya tersebut berbicara lain. Faktanya, bukan anggota AKK-BB yang dicekik. Tapi justru anggota FPI bernama Ponco Alias, Ucok Nasrullah. Dalam Jumpas pers pasca tragedi Monas, FPI membeberkan fakta bahwa Munarman justru bersikap sebaliknya, mencegah Ponco agar tidak bertindak anarkis. Atas, KESALAHAN NYATA tersebut akhirnya Tempo meminta maaf dan mengaku kecolongan dengan pemuatan foto tersebut.

Dalam kasus ini, publik harus mempertanyakan kembali reputasi Tempo yang kerap gembar-gembor dengan slogan "Terpercaya" dan "Jurnalisme Investigasinya" . Publik mesti kritis, dengan mempertanyakan kembali informasi-informasi yang disebarkan Tempo. Terutama pemberitaan pemberitaan tentang Islam diluar "Islam Moderat" dan "Islam Liberal". Alasan tegasnya, kita tahu bagaimana latar belakang media ini. Dari latar belakang orang-orang yang berada di dalamnnya, jelas sudah politik media yang dimainkan. Lebih condong kepada kebebasan dan pemujaaan "Sekularisme" . Singkatnya, pemberitaan Tempo
mengenai berbagai problem "Umat Islam" patut disikapi kritis (baca dicurigai). Bisa jadi konspirasi dan skenario global akan mewarnai setiap pemberitaan untuk memojokkan gerakan Islam.

Soal foto tersebut bukan persoalan sepele. Bayangkan saja misalnya kaum akademisi, peneliti atau kolumnis asing menjadikan foto tersebut sebagai pembenaran dan bukti-bukti mengenai "Kekerasan oleh kelompok Islam" dalam setiap karya (tulisan) maupun analisis yang mereka hasilkan. Foto tersebut pada dasarnya berpotensi untuk DISALAHGUNAKAN sebagai fererensi yang keliru. Belum lagi ternyata Tempo cukup pengecut dengan hanya "Minta maaf" dan tidak cukup berwibawa misalnya memberhentikan redaktur yang bertanggungjawab atas pemuatan foto tersebut.

Akhirnya, publik meski belajar banyak atas skandal foto Tempo ini. Kita meski mengakhiri mitos Tempo yang "Terpercaya" . Bagi kaum muda (muslim) yang ingin mempelajari jurnalisme, memang masih tetap perlu belajar dari Tempo misalnya gaya dan rasa penulisan. Namun, tentang soal "Framing" (bingkai) berita dan keberpihakan, jelas Tempo bukan media yang bagus sebagai rujukan apalagi untuk konsumsi dan legitimasi dalam berargumentasi.

Dengan demikian, kita bisa belajar banyak mengenai kasus skandal foto Tempo
ini, terutama dalam ranah jurnalistik. Secara makro belajar tentang kejujuran dan keperpihakan dan secara mikro belajar untuk cek and ricek agar tidak "kecolongan" untuk memberitakan maupun membuat informasi ( foto) yang keliru kepada publik.


-----------------------------------------------------------------------------------

PS; saya termasuk yang senang membaca Tempo, cara majalah ini bertutur cukup memikat. Terutama untuk tulisan tulisan humanistik. Tapi makin kesini kok Tempo sering banget menggelar konfrensi press untuk "permintaan maaf".  Kalau di mata saya sebagai pembacanya, ini berarti kian hari mutu jurnalistik Tempo makin menurun.  Bukan dalam hal teknis penulisan tapi dalam hal kredibilitas, kejujuran,dan independensi.  Zaman sekarang memang susah mencari media yang bersih dari propoganda.  Mana dunkk katanya jadi corong kebenaran?

16 comments:

Om Rei (OR) said...

siapa di belakang tempo sudah menjawab kenapa mereka "kecolongan" atau "sengaja kecolongan".....

laksita wijayanti said...

Mungkin suatu hari kita musti pasang iklan......"DICARI MEDIA "BERSIH".
tapi kalo dipikir pikir, gak mungkin ada yang pure bersih dari kepentingan kepentingan yah,

Kanda Kakanda said...

publik sudah keburu tahunya fitnah itu,
koreksi biasanya ngga nyampe ke mereka yang terlanjur "menelan" info salah. Ini adalah strategi mereka. :(

Tian OT said...

kalo soal tempo dan komunitas utan kayu yang merapat ke islam liberal, indikasinya sudah jelas. --> maksudnya, ada "agenda terselubung" kan pak Sudaryono Achmad?

tapi foto insiden pencekikan itu asli kan?

lani marliani said...

KALO MAJALAH KITA GIMANA MBAK? BERSIH TAK? aqeqeqe...

laksita wijayanti said...

Pak Kanda: ya pak, memang media itu berpengaruh besar
Kang Tian: bisa dilihat juga kalo Pak Sudaryono juga punya agenda , ya emang tiap orang punya agenda masing masing, heu heu heu
tinggal kita sebagai konsumen yang harus mawas diri, ati ati, musti kritis..

laksita wijayanti said...

cutiscellow:bersih kok, barusan aku liat achmad nyapu lante di depan mejaku..whakakakakakak

Tian OT said...

saya baru tau kalo ada kategori "media bersih". soal bersih tidaknya media --kalau yang dimaksud adalah objektif dan sesuai fakta-- itu tergantung pengelolanya. apakah mereka menerapkan prinsip-prinsip jurnalistik, yang tidak melanggar kode etik jurnalistik dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

kalau seandainya melanggar uu tsb, pers juga bisa dipidanakan (dituntut secara hukum).

aien r said...


ralat... koreksi.... atau apalah namanya.....
hanya jadi berita angin lalu.....
kesimpulannya...
yang nyampe ke pembaca... tetap fitnahnya....

laksita wijayanti said...

betullll sekali mbk Aien
tulisan itu bisa lebih tajam dari pisau.

dina sudjana said...

sekarang kalau saya lihat tempo garing beritanya..

rifi zahra said...

makanya mba sita, yuks kita bikin majalah n koran sendiri yang emang memaparkan kebenaran!

laksita wijayanti said...

Mbk Dina: banyak media mengalami penurunan kualitas mbk
Mbk Zahra; katanya kebenaran itu juga relatif mbk;)), benar menurut saya belum tentu benar menurut orang lain, hehehe

Ayah Naila said...

Mendingan baca majalah makanan aja...


dijamin wenak mbak...

laksita wijayanti said...

papahe naila: lah kalo kita coba terus ternyata resepnya gak pas gimanaa?kudu dikasih ganti rugi nooo......*mbh, oleh oleh bandung yo;))*

Ayah Naila said...

kalo resep sih biasanya sudah terukur... tinggal tangan masing2 ajah....

dalam dunia masak, beda tangan, bisa beda rasa lho.. walaupun resepnya sama.... ikikki.....


kapan ke bandung? katanya mo ada acara kompdaran KM ya?