Tuesday, January 22, 2008

Pentas Teater "Republik Anthurium"

JAKARTA, KOMPAS.COM --Teater Tetas membuka tahun ini dengan mementaskan lakon berjudul “Republik Anthurium”. Naskah ini ditulis dan disutradarai oleh Ags. Arya Dipayana, dan akan ditampilkan pada 22 dan 23 Januari 2008, pukul 20.00 WIB di GeotheHaus Jakarta, Jalan Sam Ratulangi 9-15, Menteng, Jakarta Pusat.

“Republik Anthurium” merupakan suatu refleksi atas sebuah negeri yang seluruh tatanannya dibangun dengan isu. Seluruh pranata politik, budaya, ekonomi maupun sosial dikendalikan oleh sesuatu yang berada di luar sistem-–suatu kekuatan yang tidak tampak--dan perubahan dapat terjadi kapan saja, tanpa terduga sebelumnya. Segala hal menjadi nisbi sifatnya.

Setiap kali isu diembuskan, seluruh perhatian masyarakat akan tertuju ke situ, dan segera melupakan apa yang sebelumnya sedang mereka persoalkan. Digiring oleh kepentingan dari pemegang kendali, masyarakat justru seperti mabuk kepayang. Mereka larut dan menjadi bagian dari permainan. Sedemikian rupa, sehingga nasib mereka pun bergantung pada mekanisme sistem di mana mereka berada.

Sindrom anthurium dalam lakon ini tidak lain hanya salah satu dari beragam kecenderungan, yang dalam pertunjukan ini dipilih menjadi metafora untuk berbicara tentang banyak persoalan. Suatu umpan yang mengenai sasaran di suatu masyarakat yang tergila-gila pada eksotisme–-dengan atau tanpa kepentingan ekonomi di baliknya.

Lakon ini diangkat justru pada saat Gelombang Cinta–-salah satu dari keluarga Anthurium--berada di puncak popularitasnya, menjelang titik antiklimaks. Menjelang diembuskannya isu yang lain, yang akan serta-merta meluluh-lantakkan tatanan sebelumnya.

Pertunjukan ini akan didukung oleh Youva Triwahyuni Meyke Vierna, Harris Syaus, Hari Prasetyo, Barlyanta, Lalu Zulkarnaen, Intan Permata, Yosep Viar dan lain-lain. Tata artistik oleh Sugeng Yeah, penata musik Nanang Hape, tata cahaya oleh Heri W. Nugroho. Akan tampil secara khusus dalam pertunjukan ini koreografer Elly D. Lutan dan dalang topeng Wangi Indriya dari Indramayu.

Pertunjukan berdurasi 75 menit ini merupakan kerjasama antara Goethe Institut Jakarta dengan Teater Tetas. Terbuka untuk umum, tanpa dipungut bayaran.

2 comments:

laksita wijayanti said...

gak sengaja, minggu kemarin baca iklan ini di kompas
menarik!....soalnya aku cukup mengikuti soal gonjang ganjing anthurium
maklum aja, kantor tempat aku bekerja berkutat di soal ini
menarik buatku..karena teater tetas bisa menggambarkan contoh kasus kasak kusuk anthurium ke kehidupan nyata kita
apa negara kita emang gak beda jauh sama negara anthurium ya?


nontonnnn ahhh.....

Kang Dani :) said...

Wah seru tuh kayaknya ^_^