Thursday, January 17, 2008

Kedelai, komoditas yang salah urus

diambil dari milis IPB Linkers
kita gagal.
titik.

Komoditas yang Salah Urus

Masyarakat tak mampu berduka. Harga tempe dan tahu meroket. Padahal, makanan berbahan baku kedelai itu sumber utama protein nabati yang harganya relatif terjangkau oleh sebagian besar warga Indonesia. Ironisnya, dalam jangka pendek pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kenyataan itu. Kebijakan penurunan bea masuk dari 10 persen menjadi nol persen tidak akan banyak berarti. Karena penurunan subsidi yang hanya 10 persen tidak sebanding dengan peningkatan harga kedelai, yang dalam setahun ini mencapai 100 persen. Taruhlah harga kedelai impor saat ini Rp 7.000 per kilogram. Dengan penurunan bea masuk, harga kedelai akan berkurang Rp 700 per kg. Perajin tempe dan tahu tetap akan kesulitan berproduksi dengan harga kedelai Rp 6.300 per kg, serta harga jual tempe pun relatif akan tetap tinggi. Memang banyak sumber protein lain seperti telur, daging, dan susu.

 Namun, hanya sebagian kecil dari lapisan warga yang mampu mengonsumsi bahan makanan itu karena harganya relatif mahal. Tempe dan tahulah yang selama ini menjadi sumber protein paling murah. Berdasarkan hasil penghitungan Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI), harga per gram protein bersumber tempe dengan kandungan 15 persen hanya Rp 50. Sementara telur dengan kandungan protein per gram 12, 15 persen harganya Rp 75. Itu pun dengan catatan harga telur Rp 9.000 per kg. Sumber protein dari daging sapi lebih mahal lagi. Dengan kandungan protein 20 persen harganya Rp 250. Melihat disparitas harga makanan yang menjadi sumber protein yang cukup tinggi itu, tidak aneh kalau sebagian besar masyarakat, terutama yang kemampuan ekonominya relatif lemah, memilih tempe atau tahu. Sebab, selain bergizi juga murah.

Namun, itu dulu. Kini harga tempe dan tahu tidak lagi murah. Harga tahu per biji telah naik dari Rp 200 menjadi Rp 300. Begitu juga tempe, dari Rp 2.500 per batang menjadi Rp 3.000. Harga itu masih akan terus meroket. Kenaikan harga tempe dan tahu itu makin menyesakkan dada karena sebelumnya rakyat harus memikul beban kenaikan harga beras, minyak tanah, sayuran, jagung, singkong, ubi jalar, dan tepung terigu. Sementara pendapatan relatif tetap. Kenaikan harga kedelai dunia sebenarnya tidak terlalu merisaukan masyarakat Indonesia seandainya pemerintah tanggap dan mengantisipasi dampak kenaikan itu sejak jauh-jauh hari.

Kebijakan pascareformasi


 Produksi kedelai dalam negeri dari tahun ke tahun terus merosot. Tahun 2007, misalnya, produksi kedelai lebih rendah 18,6 persen dibanding tahun 2006 yang mencapai 747.611 ton. Petani cenderung enggan menanam kedelai. Bila ditelusuri, hal itu terkait dengan kebijakan pemerintah pascareformasi dan kebijakan AS sebagai produsen utama kedelai dunia. Tahun 2000, produksi kedelai AS melimpah sehingga sulit untuk menampung panen kedelai petaninya. Untuk menjaga insentif harga bagi petaninya, Pemerintah AS melalui USDA (United State Department of Agriculture) meluncurkan kredit ekspor, GSM 102. Tahun 2000 kredit ekspor yang diberikan 12 juta dollar AS dan tahun 2001 sebesar 750 juta dollar AS. Fasilitas kredit ini diberikan khusus kepada importir kedelai Indonesia. Dengan fasilitas kredit itu, importir Indonesia banyak yang mendatangkan kedelai dari AS. Apalagi harganya lebih murah Rp 550 per kilogram dibanding harga kedelai lokal. Harga kedelai lokal Rp 2.500 per kg, sedangkan kedelai impor Rp 1.950.

Kebijakan AS itu diterima begitu saja oleh Pemerintah Indonesia tanpa mengkaji risiko yang lebih panjang. Akibatnya, kedelai lokal kalah bersaing. Petani lambat laun tak lagi bersemangat menanam kedelai. Akibatnya, produksi kedelai nasional terus menurun. Tahun 1992 luas panen kedelai lokal 1.665.706 hektar, dan sembilan tahun kemudian, tahun 2001, turun menjadi 723.029 hektar. Pada tahun 2005, atau empat tahun kemudian, luas panen turun lagi menjadi 621.541 hektar. Tahun 2006 menjadi 580.534 hektar dan tahun 2007 menjadi 456.824 hektar, atau tinggal 27,4 persen dari luas panen 1992.

Di tengah kelesuan petani lokal menanam kedelai, petani kedelai AS justru mendapat semangat baru. Jaminan harga yang diberikan Pemerintah AS dengan memberikan "subsidi ekspor" melalui fasilitas kredit ekspor, menjamin hasil panen petani selalu diserap pasar dengan harga yang layak. Sementara petani kedelai Indonesia dibiarkan bertarung sendiri di "medan perang" globalisasi.

Muncul UU No 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. UU itu membebaskan petani untuk mengembangkan komoditas yang mereka sukai. Petani pun menjauhi kedelai dan beralih menanam jagung, ubi jalar, kacang tanah, dan tanaman palawija lain yang lebih menguntungkan. Seiring perjalanan waktu, pertumbuhan ekonomi China dan India mengalami lompatan. Industri tumbuh subur dan konsumsi meningkat. Transportasi berkembang sehingga kebutuhan bahan bakar pun meningkat. Sementara produksi bahan bakar minyak (BBM) berbahan baku fosil menipis. Ditambah lagi ketegangan politik di Timur Tengah, sebagai pemasok terbesar minyak mentah dunia, memicu lonjakan harga. Karena itu, sejumlah negara maju, termasuk AS, mulai mengembangkan energi alternatif, yaitu bahan bakar nabati (BBN). AS mengembangkan etanol yang berbasis jagung, Brasil mengembangkan etanol berbasis tebu, dan negara-negara di Eropa mengembangkan biodiesel. Kebijakan energi alternatif AS yang berbasis jagung itu mau tak mau mendongkrak harga jagung dunia. Petani jagung di AS pun bergairah karena pemerintahnya memberikan subsidi kepada mereka. Tak heran bila kemudian banyak petani kedelai AS yang beralih ke jagung. Suplai kedelai dunia pun berkurang karena separuh dari kedelai dunia diproduksi oleh AS. Persoalan tak cuma itu. Lonjakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) juga mendorong tingginya harga minyak goreng dunia sehingga sebagian produksi kedelai dialokasikan untuk bahan baku minyak goreng. Indonesia sebagai negara pengimpor kedelai pun merasakan dampaknya. Tiap tahun Indonesia rata-rata mengimpor 1,3 juta ton atau 60 persen dari kebutuhan kedelai nasional.

Perlu terobosan

Kini, pemerintah tidak bisa lagi tinggal diam. Keresahan akibat kenaikan harga kedelai telah merebak. Sebab, harga tempe, tahu, tauco, kecap, susu kedelai, dan berbagai produk makanan berbahan baku kedelai lainnya juga ikut melonjak. Belajar dari masa lalu, selayaknya tak lagi membiarkan petani bertarung sendirian menghadapi pasar global. Jangan biarkan petani "babak belur" menghadapi "pertarungan" itu. Memberikan jaminan harga bagi petani itu sudah cukup untuk mengembalikan gairahnya menanam kedelai. Jaminan harga inilah yang selama ini sulit diberikan pemerintah. Berbagai macam alasan dilontarkan untuk menjadi pembenarnya. Padahal, dengan jaminan harga yang baik di tingkat petani, gairah menanam kedelai akan kembali bergelora. Menggairahkan petani tidak hanya memantapkan ketahanan pangan negeri ini, tetapi juga akan membuat bangsa ini tidak "didikte" oleh negara lain. Meningkatkan produksi kedelai sampai tahap swasembada bukan hal yang mustahil. Berikan jaminan harga yang layak, petani akan tertarik menanam kedelai. Jangan menunggu petani patah semangat lagi.Pemerintah tak perlu ragu "melindungi" petani karena negara lain tidak hanya "melindungi" petaninya, tetapi juga produk pertaniannya dengan berbagai cara. (HERMAS E PRABOWO)

---------------------------------


19 comments:

lani marliani said...

kayaknya tempe lagi membalas dendam ya mom.
kita suka ngehina orang dengan istilah mental tempe siiiy...
jadi aja skarang susah mu makan tempe..

perca endah said...

apa sih yg ga salah urus di negeri ini?

Muhammad Izzul Haq said...

ya gini nih akibat pemerintah Indonesia takut ama Amrik, yang untung pengusaha dan pejabat2 komprador, tapi yang buntung rakyat banyak

laksita wijayanti said...

rumor, dulu FAO memberikan label negara swasembada beras supaya indonesia tidak swasembada kedelai. Mungkin ini juga berkat kuatnya lobi lobi para pejabat ASA (American Soybean Assosiation).

Jumiarti Agus said...

Shita makasih infonya. ya Indonesia makin dikuak makin banyak lukanya, cacatnya. Pertanian nggak bagus, pendidikan apalagi. tapi pejabatnya terus difasilitasi, tak pernah merasakan kesulitan. Ya makanya nggak mau membantu dan memikirkan kesejahteraan rakyat.

Kalau di jp, pemerintah dan pejabat bukan org yang harus diservis hidupnya dengan segala fasilitas. Pemerintah adalah pelayan bagi masyarakat.

laksita wijayanti said...

Cutish: mungkin lan, kita terlalu menyepelekan benda sederhana tapi luar biasa ini
mbk Perca: khatulistiwa award gak salah urus tho mbk?hehehe

lani marliani said...

hmmm, masuk akal juga siiy rumornya..
duh, gak kebayang deh nasib tukang tempe dan tahu..

laksita wijayanti said...

Bunda Jumi: ada yang mengusulkan mentan, dan semua birokrat yang berkaitan dengan kebijakan pangan nasional mengundurkan diri, sebagai tanggung jawab moral. Tapi kalau dipikir pikir apakah dengan menganti orang per orang masalah bakal selesai, karena kayaknya hal ini sudah seperti kanker di tubuh bangsa indonesia. masalah pelik yang gak ada ujung pangkalnya, sudah terlalu banyak belitan keruwetan di sini. sekarang kedelai, tidak mustahil sebentar lagi tepung terigu......sebentar lagi Indonesia bakal menghadapi pemilu, ironis kiranya kalau soal kedelai dan minyak tanah sekarang ternyata hanya mainan politik.

sherry andriani said...

katanya kedelai impor transgenik dan berbahay buat kesehatan

Jumiarti Agus said...

Shita saya tahu kalau mentan itu orgnya bagus, kerjanya untuk rakyat. Masalah bukan di situ sayang. Sama RI 1. Kita harus bijak memilih pemimpin negeri yang punya pandangan, visi dan misi untuk kesejahteraan rakyat. Kita harus pilih R1 satu yang punya background science yang kuat. ketuk palu itu ada di RI 1, bukan di mentan.

seperti kasus beras, beras impor masuk dg pajak nol persen, akhirnya gabah petani kita anjlok, nah siapa yg untung, yang ada di lingkaran itu.

Ya pelik sih ya, para pemimpin tak bermoral pemimpin, harus dimulai dari kita , lingkungan terdekat untuk berbuat yg terbaik, bekerja profesional,. kalau semua sepakat, insyaAllah Ina akan membaik.

Kayak jepang juga krisi kepemimpinan sekarang. Tapi basicnya dah kuat, setiap insan harus jujur dan bekerja profesional, sehingga kekurangan pimpinan tak membuat kegoncangan negaranya. setiap person masih tetap cinta kerjanya, loyalitas dan profesionalitas yg tinggi.

kalau kita? ya amburadul, yang memimpin tak dapat dijadikan contoh, rakyat pekerja juga tak karu-karuan, gitu deh,.. jadi kayak eramah aja ini,.. ok deh saya curhat di buku aja,..

Mengapa Bertahan di negeri Orang"

perca endah said...

hahaha..mudah2an gak kecuali mungkin sistem penjuriannya yg mesti diperbaiki lagi

laksita wijayanti said...

Sherry: dari topik khusus metro TV tadi pagi, dari 1,6 juta ton kebutuhan kedelai kita, 1 jutanya diimpor, hehehehe

Bunda Jumi: Thats it bunda, keruwetan di sini dah mengakar sampai ke sistem-sistemnya, makanya masalah juga berputar putar gak ada ujung pangkalnya, kerja keras buat generasi muda. wah mau bikin buku lagi mbk? asyik, ditunggu nih...

Mbk Endah perca: wuihh deg degan nih mbk, kira kira siapa yang menang yaa....;))

Jumiarti Agus said...

ya Jepang abgusnya itu sejak restorasi Meiji, perubahan total mulai dimunculkan. Nggak tertutup kita juga bisa demikian, asalkan pemimpin atau RI 1 kita bagus.

Namun saat ini mulailah dari pribadi kita, sebagai pekerja ya harus profesional, membuat yg terbaik, juga dalam masyarakat, bersikap ramah dan santun, menghormati sesama, harus dimunculkan.. dll.

Iya Shita,. harusnya buku ini dah terbit, namun konsentrasi di hamil dulu,... tapi sekarang dah digarap lagi, moga cepat kelar,.. amiin

Ina Salisya said...

Duh makin parah aja nih negri ...

bondan suryo said...

hari ini pertama kalinya makan tahu isi sebagai lauk makan siang, setelah 4 hari tidak mendapat tahu isi di warung langganan
padahal sebelumnya tiap hari makan tahu/tempe sebagai teman ikan untuk lauk maksi

sunu hadi said...

hmmm... gara2 isu lingkungan, petani brazil n Amrik rame2 pindah tanaman dr kedelai ke Jagung -buat bioethanol-, supply dr mereka turun, trus negeri kita yang 70% kebutuhan kedelainyanya masih impor kena imbas deh. Huhu, bisa jadi gara2 bioethanol lah kita kehilangan tahu-tempe. Hmmh, gak komen soal pemerintah deh, klo kerjanya bener, mereka juga pasti sedang puyeng!

Khabarnya sampai 2010 harganya dipatok seperti sekarang loh. Masih 2 tahun lg ey... klo gak ada perubahan, tempe tahu bisa hilaaaangg. TidakkkKKkk

Evia NW Koos said...

Salam kenal ya.
Kalau dirunut runut, jadi bikin pusing. Satu dengan lainnya saling berkaitan. Indonesia emang dah salah urus dari semula
Tetapi gini, keruwetan tersebut Insya Allah msih bisa diatasi. Contohnya kasus beras. Sebagai konsumen beras, kenapa kita nggak diversifikasi makanan pokok? Indonesia kan banyak makanan pokoknya selain beras? Ada sagu, jagung, ketela pohon. Dengan begitu, konsumsi beras bisa berkurang dan kemudian impor beras otomatis menurun. Dulu kita bisa kok. Kebijakan ORBA yang geblek aja yang mengalihkan ke beras.

Lantas mengenai harga pupuk yang suka dimainkan. Kenapa nggak mandiri dengan menggunakan pupuk organik?

Kalau pemerintah nggak bisa jadi gantungan, sebaiknya masyarakatlah yang bertindak untuk mandiri. Kita mulai dari yang kecil dan mulai dari diri sendiri.

hananto sudibyo said...

mulai sekarang para orang tua harus ngajarin anaknya makan singkong ( dibikin gatot, gethuk, gaplek), jagung, ubi, gembili, ganyong, sagu ( dibikin cenil or candil ) dll biar gak melulu makan nasi hehehehhe

chan chan said...

kalo ga salah ini dimuat di kompas ya?