Tuesday, January 22, 2008

Berkunjung ke rumah Pak Daoed Jusuf (Part 1)

Lampu lalu lintas perempatan terminal Blok M menyala merah.  Aku bergegas turun dari metromini 76 Kp.Rambutan-Blok M.  Jarum jam sudah menunjukkan angka 9.30.  Tanpa ba bi bu, aku langsung menggedor sebuah bajaj yang parkir di pinggir jalan. "Bang, bangka dalam VII, dekat TK Kepompong!.  Peluh menetes di keningku. 

Aku deg-degan, takut terlambat.  Hari itu, sabtu 18 Januari 2008, kami, peserta kursus narasi III Pantau akan beranjangsana ke rumah Daoed Jusuf, mantan menteri pendidikan yang sekaligus seorang penulis.  Was-was.  Bagaimana tidak, sejak awal kursus Mbak Siti Nurrofiqoh, pendamping kami, sudah bolak balik mewanti-wanti jangan ada peserta yang terlambat.  Pak Daoed orang yang sangat disiplin dan menghargai waktu.  Seniorku di milis IPB lingkers yang kutanya semakin menguatkan kata-kata Mbak Fiqoh. Terus terang saja, di benakku pak Daoed itu sangat menyeramkan.

Bajaj berlari lincah di antara kemacetan.  Untung buatku, sopirnya paham daerah Kemang.  Setelah 3 kali berbelok dan sekali bertanya ia langsung berseru," itu mbk dibawah, saya sampai sini saja ya,takut gak bisa naik".  Di depanku ada jalan curam menurun.  Rupanya itulah komplek kediaman keluarga Daoed Jusuf.  Aku bergegas, setengah berlari.  Casio di pergelangan tangan kanan menunjukkan jam 9.55. Aku melangkah ke arah teras bangunan bertuliskan SD Kupu-Kupu. Sempat bingung harus masuk lewat mana.  Tapi hati ini langsung lega.  Dari balik jendela aku melihat Mas Andreas dan peserta lain. 

Pertemuan itu diadakan di ruangan SD Kupu-Kupu, sekolah milik Mbak Yanti, putri Daoed Jusuf.  Ruangan itu terang.  Jendela kaca tak bertirai mengelilingi ruangan berdinding abu-abu.  Dari situ terhampar luas pemandangan di luar: 2 gedung dengan jendela lucu berbentuk kupu-kupu, pekarangan hijau dengan pohon-pohon buah tumbuh subur, dan jejeran rumah-rumah lain.  Di dalam ruangan sudah diatur rapi kursi-kursi lipat.  Di depan ada 2 kursi kayu jaman dulu untuk pembicara.  Teman-temanku di kursus Pantau sudah berkumpul.  Beberapa tidak aku lihat. Ah, semoga mereka tidak terlambat.  Apa kata Pak Daoed nanti tentang kelas kami  kalau itu terjadi.  Aku masih khawatir.

Dan tibalah saat itu.  Pak Daoed Jusuf dan Ibu berjalan berdampingan.  Ibu Soelastri menyalami tamunya satu persatu.  Hangat.  Kudengar beberapa patah kata dari Pak Daoed. Lelaki berumur 80 tahun lebih itu tampak segar bugar.  Ia langsung duduk di kursi depan.  Ibu Soelastri duduk di sampingnya.  Mas Andreas lalu memulai acara.  Kami diminta memperkenalkan diri satu persatu.  Pak Daoed mengulangi setiap nama yang disebutkan.  Sesekali memberi komentar.  Rupanya ia terkenang dengan memori lama. 

"Bisa kita mulai sekarang? "tanya Pak Daoed.
aku menatap sekeliling.  Masih ada yang belum datang.
"bisa pak" jawab mas Andreas.

- - - - - - - - - -

bersambung dulu yak, mau ngerjain outline neh, binun belom dapat ide mak nyuss....hihihihihi.



1 comment:

ipe gandrung said...

*ngasi singju lakeside*

biar otlennya mak nyus... hihihiiii...