Ia sahabatku. Nama lengkapnya Tatsiana Widyawati. Tapi ia lebih populer dengan julukan Ipeh—dari kata Eva —nama aliasnya di suatu forum dunia maya yang sengaja diplesetkan. Aku mengenalnya di awal 2004, lewat komunitas cyber juga. Perkenalan tak sengaja, kalau tidak salah gara gara kesamaan minat kami, sama-sama pecandu komik Detektif Conan.
Sampai sekarang aku masih takjub kalau melihat dirinya. Takjub pada otak kreatifnya tepatnya. Ipeh satu-satunya temanku yang bisa menemukan istilah Kejora (kelompok Jomblo Ceria), atau Kecoa (KElompok Cewe Omaigod Ayune), atau mengeluarkan istilah-istilah umpatan Jawa Timuran tanpa lawannya merasa tersinggung. Kosokatanya gabungan bahasa inggris, jawa, dan indonesia.

Ipeh selalu berhasil menemukan istilah unik. Kucing berbulu putih yang sudah setahun ini dipeliharanya pun menui berkah, menerima nama unik, bernada bahasa belanda, Zsaevoodien, panggilannya singkat dan membumi untuk ukuran kucing kampung, Oodien. Aku? tidak ketinggalan. Pecinta warna hitam, merah, dan hijau ini bahkan memanggilku Le Blanc, dari asal kata lele—makanan favoritku dan gembloenk—ejekannya padaku.

Atau lihatlah cara Ipeh menyusun kata-kata pendapatnya. Saat itu aku iseng menanyakan arti hidup ini baginya. Menurut ipeh hidup itu persis seperti pupup—bahasa jawa untuk buang air besar. Kadang susah, kadang gampang atau lancar tanpa hambatan sama sekali. Kadang keras penuh tantangan tapi puas di akhirnya, kadang encer tidak perlu perjuangan tapi capek karena harus berulang-ulang, tidak jelas dan tanpa makna. “Manusia kudu sabar” ujarnya serius. Aku terpana, mendengarnya serius. Tapi keseriusan itu pecah menjadi tawa kala ia melanjutkan wejangannya, “Apalagi kalo kudu antri di WC umum padahal dah mules banget. Kesimpulannya, dalam hidup kita kudu rajin makan pepaya dan minum air putih”. Intinya Ipeh memang nomor 1 soal utak-atik kata. Anehnya saat bicara raut mukanya sama sekali tidak berubah.

Hobi Ipeh ada 2: membaca dan men musik. Penulis favoritnya Seno Gumira Ajidarma. Di rumahnya di daerah Sumur Batu, Jakarta Pusat, ia menyimpan rapi semua koleksi bukunya. Berjajar teratur dalam rak dinding setinggi 2 m. Kebanyakan bersubjek sastra. Mungkin itulah sebabnya ia kaya bahasa.

Usia Ipeh 2 tahun lebih tua dariku, 29 tahun. Lulus dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta—sekarang Universitas Negeri Jakarta—jurusan Bahasa Inggris. Walaupun punya bekal pendidikan guru, ipeh ogah jadi pengajar. “Aku gak bisa serius” ujarnya memberi alasan. Setelah 2 kali pindah kerja—Perusahaan konsultan lalu trainer di sebuah lembaga kursus bahasa inggris ternama—sekarang ipeh bekerja di sebuah perusahaan BUMN, menjadi sekretaris dirjen BUMN itu. Gajinya lumayan besar, ditambah macam-macam tunjangan laiknya Pegawai Negeri Sipil membuat gadis asal Kutoarjo, Jawa tengah, ini seharusnya bisa hidup nyaman.

Nyaman? ternyata belum sepenuhnya. Ada 2 hal yang masih membuatnya risau hingga kini; soal berat badan dan status jomblonya. Label baju XL cukup membuat ipeh kesal. Sering saat jalan bersama ia menyumpahi—tentu dengan bahasa yang “cantik”–toko toko di ITC Cempaka Mas atau Atrium sebagai pilih kasih dan rasis, hanya gara gara tidak ada ukuran XL di sana. Kenyataannya, walaupun sering mengeluh ia tetap bisa berpenampilan chic. Kerudungnya selalu sewarna serasi dengan busananya. Pernik cantik seperti bros atau kalung selalu hadir menyempurnakan penampilannya. Sering kulontarkan kalau tinggi 150 cm dan berat 60 kg seharusnya tidak jadi masalah buat dirinya. Apalagi ia tergolong kategori cantik, kulit kuning bersih dan mata ekspresif. Ujung-ujungnya ipeh cuma mendelik mendengar saranku itu.

Hal kedua soal statusnya, yang hingga kini masih sendiri. Ipeh anak bungsu dari 5 bersaudara, satu-satunya perempuan. Keempat kakaknya sudah menikah. Tinggal ipeh seorang. Kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai guru sudah lama memendam hasrat untuk mantu, setelah 4 kali ngunduh mantu. Tapi Ipeh masih kebingungan. Mungkin belum ada laki-laki yang bisa menyaingi otaknya yang imajinatif. “Memang seperti apa kriteria idamanmu?” tanyaku suatu waktu. Mata Ipeh langsung hidup, “ Pinter koyo aa Pendi en Antonio Sapei, imajinasi ok koyo Seno Gumira Ajidarma, imam koyo Zaim Uchrowi, terus iso musik koyo Letto”. Aku terpingkal-pingkal.

Hari Minggu kemarin kami kembali bertemu. Aku dan ipeh menghadiri acara temu penulis Laskar Pelangi, Andrea Hirata, di Gramedia Matraman. Ketika aku mengatakan akan menulis tentang dirinya sebagai tugas di kelas pantau, ia cuma mengomel dan berkata…”Diamput!!dasar cah gembloenk!!”

Ahhh, sahabatku memang menakjubkan……..

————————————————

Tulisan ini kubuat untuk tugas di kelas narasi pantau
kami diminta membuat deskripsi
tugas dikumpul hari selasa
dan sampai sabtu malam aku belum nemu ide untuk menulis siapa
n then…jrengg…jrengg….kenapa gak nulis soal ipeh aja ya?
langsung deh,,,,…sedikit nowel nowel ipeh buat kelengkapan data
istilah kerennya Verifikasi
kan bisa berabe kalo salah nulis namanya oodien misalnya……

*belakangan baru tahu ,ternyata masih ada aja yang salah, eva seharusnya eve*

senin sore langsung diketik n dikirim ke mbk fiqoh di pantau
lega rasanya bisa ngerjain tugas tepat waktu
sekarang lagi nyorat nyoret buat tugas minggu depan
buat features soal kehidupan atau pekerjaan kita sehari hari