Wednesday, May 2, 2007

Sahid Akhirnya Menemukan Jalan ke Bintang

 Hari Pendidikan Nasional
Prestasi Buah Hati Membayar Segalanya


Pendidikan anak Yang utama. Inilah prinsip hidup keluarga Yanto (53), warga Dusun Gampingan, Kelurahan Sitimulyo, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Demi kelangsungan sekolah lima anaknya, buruh penambang pasir sungai itu bekerja siang-malam.

Kini, ia bisa tersenyum lega, karena si bungsu akan menuntut ilmu ke Amerika. Selasa (1/5) itu, Yanto baru saja memenuhi bak belakang sebuah mobil colt sewaan dengan pasir Kali Kuning. Tengah berkeringat, Yanto menerima salam pamit dan cium dari lima anaknya yang hendak berangkat sekolah dan bekerja.

"Empat dari lima anak saya sudah lulus SMA dan bekerja. Tinggal si bungsu saja yang masih sekolah, sekarang dia masih kelas dua SMA..." ujar Yanto terputus. Alis matanya menunduk.

Setiap kali menceritakan Sahid Priyambodo (16) si bungsu, Yanto dan istrinya, Sukini (55), sedikit merasa berat walau juga bangga. Menurut rencana, tanggal 14 Juni nanti Sahid akan mengikuti program pertukaran pelajar dari American Corner UGM ke Florida, Amerika Serikat.

Sahid satu-satunya siswa SMU Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang lolos seleksi program pertukaran pelajar tersebut. Seperti dituturkan Humas SMU Muhammadiyah 2 Yogyakarta Saryana, proses seleksi pertukaran pelajar ini melibatkan 600 lebih siswa di DIY, dan Sahid menjadi satu dari 12 siswa yang tersaring.

Sahid dikenal guru-gurunya sebagai pribadi yang cerdas, percaya diri, dekat dengan orangtuanya. Pulang sekolah, saat kakak-kakak dan ayahnya bekerja, siswa kelas dua IPA ini menemani ibunya mengumpulkan daun pisang di pekarangan rumah.

Diceritakan Yanto, pertengahan tahun 2005 Sahid terancam tidak bisa melanjutkan sekolah setelah lulus dari SMPN 1 Piyungan. Tidak ada biaya, itulah sebab utamanya. Padahal, Sahid lulus membanggakan dengan nilai ujian nasional (UN) 28,79, atau rata-rata 9,6 untuk tiap mata pelajaran yang diujikan.

Beberapa minggu Sahid menganggur di rumahnya sendiri. Kesempatan ia melanjutkan sekolah ke SMU negeri pupus karena pendaftaran telah ditutup. Satu-satunya kesempatan adalah melanjutkan ke SMU swasta.

"Suatu hari, Sahid bertanya pada saya, ’Pak, kalau saya tidak sekolah, lalu mau ngapain?’ Mendengar itu, hati saya tersentuh. Saya segera ingat prinsip hidup saya yang mengedepankan pendidikan anak," kata Yanto.

Yanto langsung bergerak cepat. Seakan memutuskan urat malu, ia pergi mencari pinjaman uang ke sana-sini untuk biaya sekolah Sahid. Saat itu, ia mendapat informasi bahwa SMU Muhammadiyah 1 dan SMU Muhammadiyah 2 Yogyakarta masih bisa menerima siswa baru.

Sahid diterima di SMU Muhammadiyah 2 dan Yanto diperbolehkan menunggak biaya pendaftaran yang besarnya Rp 2 juta lebih. Bahkan, hingga kini, Yanto belum bayar tunggakan tersebut berikut uang SPP Sahid setahun karena tidak punya uang.

Penghasilan Yanto yang rata-rata hanya Rp 500.000 sebulan masih digunakan untuk membayar utang biaya perawatan rumah sakit yang ditunggaknya selama 10 tahun. Saat itu, istrinya melahirkan dengan bedah caesar dan menghabiskan biaya Rp 13,5 juta. Sayang, adik Sahid itu meninggal dua bulan kemudian.

Selain membayar utang, kepergian Sahid ke Amerika Serikat membuat Yanto dan istrinya harus memberikan yang terbaik. Agar anaknya tak tampil memalukan, Yanto mengikutkan Sahid ke sebuah lembaga kursus bahasa Inggris. Selain itu, ia membeli beberapa pakaian baru, sepatu, dan kopor bagi anaknya. Tak kurang dari Rp 1,5 juta sudah ia keluarkan untuk itu.

"Yang penting anak saya maju. Saya dan istri menderita tidak masalah," tutur Yanto.

Banyak anak-anak yang harus putus sekolah atau bahkan tak bisa menuntaskan pendidikan dasar karena alasan ekonomi.

Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak sekaligus psikolog anak Seto Mulyadi, tahun 2005 tercatat lebih dari 1,7 juta anak di Indonesia putus sekolah. Sekitar 84,48 persen berasal dari tingkat SD/MI, 10,45 persen dari tingkat SMP/MTs, dan 5,07 persen dari tingkat SMA/MA.

Mengatasi permasalahan ini, khususnya di wilayah DI Yogyakarta, Kepala Seksi Kurikulum Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan DIY Anwar Murhan menyatakan pemerintah telah mengadakan program khusus yang disebut "retrieval". Program ini dinyatakan dalam pemberian bantuan senilai Rp 1 juta/tahun bagi anak putus sekolah atau yang terancam putus sekolah. Ini berlangsung sejak 1994.

"Kami aktif mendatangi sekolah-sekolah, terutama di wilayah terpencil. Sehingga data yang kami miliki lengkap mencantumkan nama dan alamat siswa yang perlu dibantu," kata Anwar.

Anwar menekankan, untuk mengatasi hal ini perlu kerja sama antar pemerintah dengan orangtua. Orangtua perlu menyadari pentingnya penuntasan wajib belajar sembilan tahun bagi anak. Dengan mengantongi ijasah setingkat SLTP, peluang meraih pekerjaan layak masih terbuka.

Pendidikan semakin mahal, tetapi janganlah kemahalan itu menjadi satu-satunya alasan menjerumuskan buah hati kita ke dalam jurang kebodohan. Lihat sekitar kita, mungkin masih banyak Sahid-Sahid lain yang perlu dibantu. Selamat Hari Pendidikan Nasional.(AB2)


dikutip http://www.kompas.com/


Entah ada apa di benak para pemimpin negara ini
pendidikan, salah satu pilar utama melenyapkan kegelapan
malah dicabik dan dianak tirikan,
betapa mahal harga sebuah institusi bernama sekolah
semakin tidak terjangkau oleh tangan-tangan rakyat jelata.
apa lagi yang bisa dibanggakan dari orang orang yang mengaku dirinya pemimpin itu...


Sahid, selamat berjuang ya


Semoga makin banyak bintang yang bisa kau genggam.


 

No comments: