Sunday, December 25, 2005

Pacaran berselubung syariat???

Kejadiannya kemarin sore, sabtu 24 Desember 2005, waktu itu sita sedang nganterin desi nyari rok jeans ke Pusat Grosir Cililitan.  Setelah puas berkeliling di 3 lantai, pukul 16.00 kita sholat ashar.  Mushola PGC terletak di lantai 7, untuk ke sana kita harus menggunakan lift.  Bayangkan liftnya cuma 2, jelas saja antri terus.  Demikian juga pulangnya, kami harus rela menunggu lama di ruangan berukuran 3 m x 2 m.


Selain kami berdua, ada 2 orang lainnya.  Sepasang muda mudi, kalau aku taksir umurnya antara 22--24 an, hampir sebaya dengan kami.  Semua bakal biasa saja kalau tingkah mereka tidak aneh.  Sang putri berjilbab merah marun, cantik, jilbabnya lebar menjuntai, laikknya temen temenku yang berlabel "Akhwat".  Yang putra, tinggi, memakai celana jeans dan kaos rapih.  Mulanya aku gak "ngeh", kalau desi tidak mencubit tanganku.  Bagaimana tidak aneh, mereka berdiri berhadapan, masing masing bersandar di dinding kaca ruang tunggu, keduanya dipisahkan oleh lantai sejauh 2 m tempat orang berlalu lalang.  Mereka ngobrol, kami mendengarnya, tapi pandangan mereka tidak bertemu.  Si putri merunduk, namun sesekali mencuri pandang. Sang putra juga demikian.  Dan itulah pemandangan lucunya, mereka berdua ngobrol sementara aku dan desi berdiri tepat di tengah tengah, memisahkan mereka berdua.  Obrolan pun bukan obrolan biasa, Ada kesan mesra di dalamnya.  Desi yakin mereka tidak pacaran...."Mungkin sedang tahap taaruf" begitu ujarnya.  Aku cuma mengeleng, karena aku pun tidak yakin.


Di lift, kejadian ini berlanjut. Mereka berdiri berjauhan, dipisahkan kami, namun tetap mengobrol.  Jadi jangan salahkan kami kalau bisa tahu isi obrolan mereka ya!  Pengalaman ini mau tidak mau membangkitkan kenanganku.  Saat itu temenku, aktifis salah satu partai islam, menjalin hubungan dengan Ikhwan dari partai yang sama.  Katanya sih mereka sedang taaruf.  Beberapa kali mereka jalan berdua, tidak beriringan, tapi depan belakang.  Sering smsan, karena kami pernah sekosan.  Saling menelfon dengan isi  tak jauh berbeda dengan orang pacaran.  Padahal di luar dia sering berkoar koar masalah "pacaran itu haram", dsb, dsb, pergaulan ikhwan akhwat itu ada aturan ketatnya.....


Sayang seribu sayang kenyataan di lapang membuktikan lain.  Dia, beberapa aktifis akhwat/ikhawan yang kukenal, lalu kejadian di PGC itu sudah menunjukkannya.  Emang ada yah pacaran berselubung syariat?  Memegang dan melaksanakan apa yang diyakini ternyata tidak mudah yah.  Maksud hati melaksanakan teguh syariat tapi jadinya malah jomplang. Dalam pandanganku, mereka tidak jauh berbeda dengan orang orang munafik.... 


 


 

32 comments:

Jonru Ginting said...

aktivis dakwah juga manusia
punya rasa punya cinta
hehehehe...

makanya, kita jangan melihat seseorang dari penampilan atau golongannya
bisa saja orang yang lebih rusak di mata kita, justru lebih mulia di sisi Allah, karena ternyata dia jauh lebih beriman dan bertawakal.

Maka, yang perlu kita lakukan adalah terus berusaha menjadi hamba Allah yang terbaik. Kita jangan menjadikan seseorang (misalnya pak haji atau sesosok aktivis dakwah) sebagai pedoman dalam menerapkan ajaran agama. Yang seharusnya dijadikan pedoman adalah ajaran agama itu sendiri, bukan perilaku para pemeluk agamanya.

Hilmy Abdul Hadi said...

Waduh, mbak, kalo disebut munafik kayaknya terlalu jauh, karena munafik itu (kalau kita berbicara dalam konteks istilah) berhubungan dg masalah aqidah.

Bukan berarti saya meremehkan hal tersebut, hanya saja penilaian yg kurang tepat akan menimbulkan pendekatan yg kurang proporsional, sehingga (kalaupun memberikan) solusinya juga akan kurang tepat sasaran.

Badrus Zaman said...

jangan terlalu cepat memvonis gitu dong hehe....
kali aja beliau-beliaunya belum ngeh :P
smoga aja kita tidak termasuk orang-orang yang munafik.

oh iya, smoga sita segera menemukan soulmatenya yaa.... ;)

laksita wijayanti said...

hehehe, thx atas pencerahannya buat bang jonru, jengki, n elmiftah
itu hanya uneg uneg pribadi sita
memang yah, menyelaraskan apa yang kita yakini dengan perbuatan itu sulit
dan setuju dengan bang jonru, mungkin sita memberikan label harga terlalu tinggi kepada mereka. sita lupa, bahwa mereka pun manusia yang bisa berbuat kesalahan.

kur whs said...

salam kenal mbak sita, kalo misal saya suka dengan mbak sita, sedangkan saya belum kenal dengan mbak sita, apa yang kira-kira harus saya lakukan? langsung melamar? ga mungkin toh? mungkin saya akan cari tahu no telp mbak sita, trus nelpon, sms, cari tahu rumah, berusaha ketemu agar bisa saling mengenal lebih jauh. Menurut saya hal itu tidak termasuk dalam kategori pacaran.. mungkin "mereka" sedang melakukan seperti itu.. *berprasangka baik aja*

Mutawalli .S said...

Ithlaq kalimat nifaq (mengatakan orang lain munafiq) sama sekali bukan haq manusia... bahkan nabi sekali pun.. Allah yang berhaqq untuk itu..
salam kenal mbak laxita..

Mutawalli .S said...

Emang udah seharusnya pacaran itu di lingkupi syariat.. jadi ia bisa menjadi Halal.. ya itu di selubungi dengan nikah dulu.. *maksa* (#__#)

prajuritkecil tak bernama said...

makanya nikah dulu baru pacaran....
bocoran: suamiku bilang, dulu waktu belum nikah dia liat aku udah kayak akhwat jagoan banget, sekarang pas nikah kenapa jadi berubah ya...? jadi super duper manja....
hehehehehe...manjanya buat suami doank lah...

laksita wijayanti said...

halo mutawalli dan kurzz, salam kenal juga dari sita.
berprasangka baik aja yah?hehehe
buat mas mutawalli dalam pandangan sita munafik itu salah satunya berbeda antara apa yang kita lakukan dengan apa yang kita ucapkan, bahasa kasarnya seperti menjilat air ludah sendiri.
tapi mungkin benar anggapan dari kurzz, sita terlalu menjudge.
buat kurzz, yah nelfon, sms boleh, datang ke rumah juga boleh tapi tetap harus dijaga agar sesuai dengan koridor syariat....pissss!hehehehe

laksita wijayanti said...

menikah dulu baru pacaran?....mauuuu donkkk!

Mutawalli .S said...

Mau dunk pacaran.. ($__$)

doddy waris said...

boleh ngga aku ikutan mas kurzz?
Hehehehehehe.....

laksita wijayanti said...

hehehehe, boleh boleh dwis.......ikut kurzz aja tuh.hehehehe

Indra Yogi said...

Lebih baik kalau melihat hal seperti itu, didoakan aja supaya iman mereka lebih dikuatkan oleh Allah. Mendoakan itu selain menjaga kita dari perilaku ghibah, kitanya juga insya Allah dapet pahala karena mendoakan & pahalanya jadi plus plus deh :). Afwan kalau mengganggu dan salam kenal ukh....

laksita wijayanti said...

sita bukan orang yang pasti lebih baik dari mereka indrayogi
mereka juga saudara saudara sita
sita cuman miris hati dan mata melihat apa yang mereka lakukan
semoga bisa menjadi bahan introspeksi buat sita dan kita semua....

Ivan Albar said...

Nikah sunnah dan pacaran bid'ah..bukankah sunnah dan bid'ah bertolak belakang?Ta'aruf baeknya dilakuin dengan acara pertemuan kedua keluarga yang menginginkan anaknya menikah..ajukan proposal pernikahan trus menikah lalu pacaran deh..jangan diMall, atau t4 umum laennya apalagi berduaan tanpa muhrim pasalnya walau mereka berdua gak lakuin yg aneh2..tapi setidaknya bisa menjadi sumber fitnah sehingga orang2 yang melihat mereka bisa ragu, miris, berburuk sangka dan sebagainya...cegah fitnah ta'aruf kekelurgaan dirumah aja beserta seluruh anggota keluarga..top deh..

laksita wijayanti said...

thx ivan, semoga kita bisa mengambil ibrohnya...

Ivan Albar said...

oke deh..

kur whs said...

ikutan? kemana? ketempatnya laxita?

Badrus Zaman said...

apa yang namanya pacaran dalam pandangan syariat dibenarkan ????

Badrus Zaman said...

lam kenal ama ramudenk ...............

Ivan Albar said...

Nikah sunnah dan pacaran bid'ah..bukankah sunnah dan bid'ah bertolak belakang..gak ada AlQur'an maupun Hadist yang menjelaskan ttg hukum pacaran..

Badrus Zaman said...

yup, ane setuju, tidak ada istilah 'pacaran' dalam alquran maupun alhadits, meskipun kita sendiri 'belum pernah sepakat sebenarnya istilah 'pacaran' itu sendiri seperti apa :)
karena definisi pacaran itu sangat relatif sekali, tergantung individu yang menterjemahkannya.

nikah sunnah? maksudnya apa?
bukankah kalau ingin menilai hukum nikah itu relatif.
bukankah hukum pernikahan bisa sunnah, makruh, haram, wajib ataupun mubah :)

pacaran bidah? apalagi nih hehe....
kok pake bidah segala, emangnya pacaran itu salah satu ritual ibadah ya :P
ah, jangan terlalu bidahphobialah, coba dipilah-pilah dulu
pisss

Ivan Albar said...

Thanks infonya..sunnah dalam artian sunnah Rasul bukan segi hukum sunnah,makruh, halal dan haram..ada hadist intisarinya mengatakan menikah adalah sunnahku barang siapa yang tidak suka maka dia bukan dari golonganku, pasti elmiftah tau hadis itu..umumnya ada dibuku2 pernikahan,, Van cuma mengacu pada hadis yang mengatakan semua yang bertolak belakang dengan sunnah ya bid'ah....hubungan cinta kedua lawan jenis kan diatur juga ibadah..menikah itu ibadah dan diatur dalam syariat kan tata caranya mulai ijab qabul, saksi dsb, tul gak?kalo ada hubungan cinta lawan jenis yang bertolak belakang dengan nikah mo namanya pacaran kek atau apa yang dibilang bid'ah..kalo van khilaf ditegur ya..thanks nasehatnya

Badrus Zaman said...

yup, insyaallah ane tau tentang hadist itu dan setuju dengan pendapat Van.

kembali pada bidah.
memang, jangankan menikah, tidur aja bisa jadi ibadah. iya nggak? :)
tapi apakah nikah termasuk ritual ibadah ? :D
jangan terlalu maen bidah sana.. bidah sini hehe....
jangan-jangan kalo Van shalat pake celana bidah juga hehe....

laksita wijayanti said...

weleh..weleh..iki pada ngelantur ke mana mana..:)

Ivan Albar said...

Antum lebih berilmu dan menguasai hadis sedangkan ana cuma orang awam yang masih belajar..mungkin lebih baek antum tanyakan pada ahlinya secara mendetail, ana bukan ahlinya..

Badrus Zaman said...

Kalo kita mau bener-bener menegakkan agama dan mau menjalankan ajaran Allah yang dibawakan Nabi Muhammad SAW, tentulah kita tidak akan bisa melangkahkan kaki dengan semena-mena, menatapkan mata dengan keangkuhan, mengucapkan dengan mulut seenaknya ......

Kita adalah manusia biasa yang tak punya daya selain Pertolongan Allah, maka KepadaNyalah kita akan kembali dan hanya kepadaNyalah kita memohon ampunan

Ivan Albar said...

Mudah2an ALLAH Menjauhkan kita semua dari sifat sombong, angkuh dan riya dalam menjalani kehidupan dan menyinari hati kita dengan kesejukan iman dan tawadhu.amien

ica Dimyati said...

setujuuuuuuu......bang...
ya udah lah udah tau klo namanya kita manusia punya hati punya rasa, makannya jgn coba2 deh ..coba2 jalan bareng coba sms2an....ntar sifat kemanusiaannya timbul heheheh...simpati dan akhirnya jreng deh ...P.a.c.a.r.a.n.........sbb kan namanya cinta ntu klo udah simpati udah tau bener udah ngenal bener ya udah deh ..klepek2 .....hihihi

irpan ram said...

ivanalbar
reply
ivanalbar wrote on Jan 15, '06
Mudah2an ALLAH Menjauhkan kita semua dari sifat sombong, angkuh dan riya dalam menjalani kehidupan dan menyinari hati kita dengan kesejukan iman dan tawadhu.amien
elmiftah
reply
elmiftah wrote on Jan 13, '06
Kalo kita mau bener-bener menegakkan agama dan mau menjalankan ajaran Allah yang dibawakan Nabi Muhammad SAW, tentulah kita tidak akan bisa melangkahkan kaki dengan semena-mena, menatapkan mata dengan keangkuhan, mengucapkan dengan mulut seenaknya ......

Kita adalah manusia biasa yang tak punya daya selain Pertolongan Allah, maka KepadaNyalah kita akan kembali dan hanya kepadaNyalah kita memohon ampunan
keren.maaf kopi paste

^_^ Ardian ^_^ said...

Ya Allah tunjukkanlah saya jalan yang benar dan berikanlah saya kekuatan untuk melaksanakanya...Amien